PAPUA, BOAZ SOLOSSA DAN PIALA DUNIA
Pergelaran Piala Dunia 2026 telah berlangsung. Jutaan manusia menikmati perayaan akbar kompetisi kulit bundar ini. Ribuan di antaranya merupakan warga Papua. Gebyar kemeriahan itu sangat riuh terasa di Bumi Cenderawasih. Selain nonton bersama, sorak gembira para pendukung antar tim negara yang bertanding turut ramai mengisi jalan raya.
Perilaku fanatisme seperti konvoi bersama para pendukung dan ”kopi darat” ini sangat unik dan hampir tidak ada di tempat lain. Rasa cinta warga Papua terhadap sepak bola tidak perlu diragukan lagi. Sebuah sisi keunggulan yang apabila dikembangkan sangat menguntungkan banyak pihak, bagi bangsa dan negara ini maupun rakyat Papua sendiri.
Kita tentu masih ingat dengan figur sepak bola dari Papua di awal tahun 2000-an, Boaz Sollosa. Bintang lapangan yang berasal dari Papua ini sempat cukup lama mengharumkan Merah Putih. Belum lagi Elie Aiboy, Ricky Kambuaya, Erol Iba dan Eduard Ivakdalam. Masa-masa sepak bola sempat sangat bersinar hingga ke Mancanegara.
Andai warga Papua sadar akan keunggulannya. Stamina fisik dan kecepatan gerak di atas rata-rata warga Indonesia dan energi ini dimanfaatkan dengan tepat ke arah yang bermanfaat, maka warga Papua akan punya ratusan Boaz-Boaz baru yang akan menjadi tokoh kebanggaan warga Papua.
Namun, saat ini impian itu akan terhambat oleh sekelompok orang yang ingin menghancurkan Papua. Mereka merusak, membunuh, membakar sekolah dan fasilitas vital pendidikan dan kesehatan. Menurut mereka ini hebat, tapi sejatinya malah menghancurkan masa depan Papua.
Orang-orang seperti Goliath Tabuni, Egianus Kogoya dan Lekagak Telenggen inilah yang membunuh Boaz-Boaz baru. Akan sulit lahir figur sepak bola yang melegenda, apabila orang-orang seperti mereka masih berbuat semaunya, memberikan rasa takut yang menghantui jutaan warga Papua.
Warga Papua harus menyadari anugerah yang dimiliki ke arah yang benar. Bergabung menjadi pemberontak bukanlah langkah yang tepat, selain akan menghancurkan diri sendiri, hal ini juga menghambat lahirnya Boaz-Boaz baru.
Berita Terkait

Memilih Jalan Pulang, Lima Eks Simpatisan KSTP Puncak Jaya Ketuk Kesadaran Rekan Seperjuangan

Mengenal Tradisi Patah Panah: Simbol Perdamaian Tertinggi di Balik Bara Konflik Papua

Cetak Sejarah: Wapres Gibran Kunjungi Asmat, Tegaskan Komitmen Percepatan Pembangunan Papua Selatan

Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi: 8 Anggota OPM di Kiwirok Ikrar Setia pada NKRI

Satgas Damai Cartenz Tindak Tegas Komandan Operasi KKB Yahukimo Berinisial AP hingga Tewas

Generasi Muda Papua "Jangan Mau Diadu Domba"
Komentar Pembaca (0)
Ingin ikut berdiskusi?
Masuk atau daftar untuk memberikan komentar pada artikel ini.