Kembali ke Beranda
Iklan
Daerah

Memilih Jalan Pulang, Lima Eks Simpatisan KSTP Puncak Jaya Ketuk Kesadaran Rekan Seperjuangan

Dipublikasikan pada 26 Jun 2026

PUNCAK JAYA – Angin perubahan perlahan namun pasti mulai mengikis dominasi kelompok separatis di wilayah pegunungan Papua Tengah. Kemarin (25/6), lima pemuda yang selama ini berada di garis belakang sebagai simpatisan Kelompok Sipil Teroris Papua (KSTP) Kodap XXVIII Yambi - Mewoluk, resmi memilih jalan pulang. Mereka menjatuhkan pilihan untuk kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Prosesi pembacaan Ikrar Merah Putih yang berlangsung di Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, itu menjadi pembuktian penting. Kelima pemuda asli Papua tersebut: T K, BW, BT, YW, dan GW, menunjukkan bahwa jalan rekonsiliasi dan pengampunan dari negara bukan sekadar janji manis di atas kertas.


Langkah berani kelima warga Kampung Yumuk ini dinilai menjadi preseden positif sekaligus pemantik psikologis bagi simpatisan lain yang hingga kini masih bertahan di dalam hutan. Keberhasilan mereka lepas dari lingkaran radikalisme mengirimkan pesan kuat: negara benar-benar menyambut kepulangan mereka dengan tangan terbuka dan jaminan keamanan penuh.


Negara Beri Jaminan, Bersih dari Sanksi Hukum

Ketakutan akan adanya tindakan represif atau kriminalisasi pasca menyerahkan diri yang selama ini diembuskan oleh para pimpinan KSTP, runtuh seketika. Berdasarkan hasil database tracing yang dilakukan aparat keamanan, kelima pemuda tersebut dipastikan bersih dari Daftar Pencarian Orang (DPO) maupun Laporan Polisi (LP) terkait aksi teror terdahulu.


"Mereka diterima kembali sebagai warga sipil biasa. Hak-hak mereka dihormati, dan keamanan mereka dijamin penuh tanpa ada diskriminasi atau intimidasi," ujar sumber di internal keamanan yang memantau prosesi tersebut. Perlakuan humanis ini menjadi bukti autentik bahwa NKRI mengedepankan pendekatan kemanusiaan (soft approach) bagi siapa saja yang berniat tulus membangun kembali masa depannya.

Iklan


Mengakhiri Penderitaan di Hutan

Pilihan yang diambil oleh Teku Kogoya cs sekaligus memotret realitas kejenuhan di tingkat akar rumput KSTP. Hidup dalam pelarian, didera kelaparan, dan terus dirundung kecemasan di bawah bayang-bayang penegakan hukum dinilai sudah tidak lagi relevan dengan kerinduan masyarakat Papua yang mendambakan kedamaian dan pembangunan.


Kini, setelah kembali ke masyarakat, kelima pemuda tersebut dapat kembali beribadah dengan tenang di gereja dan berkumpul bersama keluarga tanpa perlu waswas. Situasi kondusif ini diharapkan mampu mengetuk pintu hati para simpatisan lain yang masih ragu untuk mengambil keputusan serupa.


Saat ini, koordinasi lintas instansi terus digodok untuk menyiapkan program pembinaan dan pemberdayaan ekonomi pasca-ikrar. Pemerintah daerah bersama aparat teritorial berkomitmen memastikan para eks simpatisan ini mendapatkan ruang yang layak untuk berkarya dan mandiri secara ekonomi.


Pintu pengampunan telah dibuka lebar di Puncak Jaya. Langkah lima pemuda dari Kodap XXVIII Yambi - Mewoluk ini menjadi bukti nyata bahwa meletakkan ideologi pembangkangan dan bergotong-royong membangun tanah kelahiran bersama NKRI adalah satu-satunya jalan paling rasional demi masa depan generasi Papua yang lebih cerah. (Az)

Komentar Pembaca (0)

Ingin ikut berdiskusi?

Masuk atau daftar untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat Anda!